bahan galian Sangkaropi Toraja Utara

Berdasarkan penelitian !

ENDAPAN MINERAL TIPE KUROKO DI JEPANG

 

Endapan mineral tipe Kuroko merupakan suatu endapan polimetalic stratabound tak termalihkan sampai termalihkan lemah, yang secara genetik berhubungan dengan aktifitas volkanik bawah laut selama periode Miosen, 13-13,5 juta tahun yang lalu. Istilah “kuroko” (kata dalam Bahasa Jepang yang berarti “bijih hitam”) umumnya diaplikasikan untuk 6 (enam) katagori mineralogi bijih (Guilbert dan Park, Jr., 1986):

  1. Bijih silisius (“keiko”) yang mengandung sulfida, terutama kalkopirit, terdiseminasi dalam batuan tersilisifikasi.
  2. Bijih kuning (“oko”) terutama pirit dengan sedikit kalkopirit dan kuarsa.
  3. Bijih hitam (“kuroko”) percampuran kuat antara sfalerit kaya besi berwarna gelap, galena, barit, dan sejumlah kecil pirit dan kalkopirit; wurzit, enargit, tetrahedrit, markasit, serta sejumlah mineral lainnya yang ditemukan setempat dalam jumlah kecil.
  4. Urat (vein) dan massa-massa besar gipsum (“sekkoko”) yang saling berhubungan tetapi dalam tubuh yang terpisah-pisah, serta tubuh-tubuh besar barit.
  5. Zona stringer kaya kalkopirit dalam pipa-pipa di bawah bijih (“ryukoko”).
  6. Akhirnya, bijih sulfida yang dilapis-bawahi oleh rijang ferruginous (lapisan “tetsusekiei”).

Pirajno (1992), mengelompokkan mineralisasi hidrotermal tipe kuroko ke dalam katagori umum Endapan Sulfida Masif Volkanogenik. Endapan tipe ini berhubungan dengan volkanisme bawah laut, yang terbentuk dalam berbagai tatanan tektonik. Endapan sulfida masif polimetalik tipe Kuroko terbentuk pada discharge site sistem hidrotermal bawah laut yang berasosiasi dengan struktur kaldera. Umumnya berumur Fanerozoikum, dan berasosiasi dengan busur-busur volkanik yang berhubungan dengan subduksi. Endapan tipe kuroko berhubungan dengan sekuens volkanik bimodal yang umumnya terdiri atas basal toleiitik di bagian bawah dan ke arah atas diikuti oleh dasit, rio-dasit, dan batuan-batuan piroklastik yang sejenis. Sekuens bimodal ini sering ter-superimposed pada volkanik kalk-alkalin yang mencirikan busur magmatik yang terbentuk di atas zona subduksi. Sillitoe (1982) mengusulkan tatanan (settings) busur-dalam dan busur-belakang sebagai lokasi endapan tipe-kuroko, yang dicirikan oleh rifting (peretakan/pencelahan) dan volkanisme bimodal yang dominan. Menurut Sillitoe (1982), rifting dari suatu busur kepulauan bisa terjadi sebagai akibat dari subduksi yang miring (oblique), dan juga memungkinkan untuk berkembang ke arah cekungan pinggiran (marginal basin). Lingkungan intra-kontinental yang meluas, juga dipertimbangkan oleh Sillitoe (1982) untuk endapan sulfida masif yang umumnya berasosiasi dengan sekuens bimodal.

Endapan tipe kuroko merupakan lensa-lensa polimetalik bijih sulfida masif selaras (conformable) yang menampakkan hubungan stratigrafi yang kuat dengan volkanisme felsik, yang terbentuk pada sabuk Tufa Hijau Miosen di daerah Honshu dan Hokkaido di Jepang, dan juga memperlihatkan hubungan ruang-waktu yang kuat dengan volkanik bawah laut fragmental berkomposisi dasitik-riolitik. Di Jepang, semua endapan kuroko terbentuk selama periode yang relatif terbatas yang menandai berakhirnya tahapan major pulse dari suatu aktifitas volkanik yang dimulai pada Oligosen Akhir (Sawkins, 1984 & 1990).

Tubuh-tubuh bijih endapan kuroko, terutama yang tersebar di timurlaut Jepang, umumnya menempati horizon-horizon stratigrafi yang dicirikan oleh akumulasi sedimen pasiran dan lumpuran (sandy and muddy) yang mengandung limpahan fosil moluska dari spesies-spesies air-hangat. Pengendapannya diduga terjadi pada cekungan-cekungan danau kaldera yang terisolasi, dangkal, dan relatif tenang, yang kemungkinan dekat dengan permukaan laut dan laut terbuka. Aktifitas volkanik tersebut dimulai dengan akumulasi debris piroklastik di lantai samudera yang merupakan Formasi Dasit Motoyama berumur Miosen. Unit-unit Formasi Motoyama ini sebagian kemudian ter-reworked oleh arus turbid selama terjadinya pembentukan kubah-kubah (domes) dan aliran lava. Material-material volkanik ini, di mana bijih sering ditemukan berasosiasi, adalah riolit dan dasit silisik yang mengintrusi Dasit Motoyama. Intrusi-intrusi lebur ini kemudian memicu terjadinya volkanisme eksplosif ketika bertemu dengan air laut di sekitar puluhan meter di bawah permukaan Formasi Motoyama, di dasar laut, atau di atas kubah-kubah ekstrusi yang sedang memijar. Ketika kubah-kubah tersebut meledak akibat volkanisme eksplosif tersebut, maka lembar-lembar breksi-aglomerat akan terbentuk. Larutan-larutan yang membawa sulfur dan logam-logam dasar (basemetals) bergerak ke atas menembus dan mengitari (di sekeliling) kubah-kubah riolit, membentuk jaringan urat kalkopirit dan zona-zona klorit pada footwall batuan volkanik yang relatif rapuh (brittle). Ketika larutan-larutan tersebut bertemu dengan breksi dan tufa jenuh air garam yang unconsolidated di atas dan sekitar kubah, tanpa menyentuh lantai samudera, maka akan bereaksi dengan cepat. Sulfida-sulfida masif, bersama-sama dengan silika, gipsum, dan barit, akan me-replace secara besar-besaran material terbreksikan dekat permukaan dan kemudian terendapkan di permukaan air bagian footwall (Sato, 1977). Perubahan-perubahan volume dan densitas akibat alterasi batuan lantai samudera menyebabkan terjadinya slumping dan percampuran berbagai macam blok material yang telah ter-replace sebagian ke dalam bijih. Berbagai macam larutan bercampur. Tubuh-tubuh masif gipsum, barit, sulfida-sulfida, atau material campuran dari berbagai tipe kemudian terbentuk ketika yang terdiri atas berbagai spesies logam dasar dan sulfur yang berbeda-beda tertuang ke atas permukaan bawah laut. Setelah periode utama mineralisasi tersebut, endapan ini kemudian ter-covered oleh piroklastik dan aliran lava yang berkomposisi dasitik. Pergerakan larutan kemudian menyusut/berkurang dari sumber sub-volkaniknya menyebabkan terjadinya alterasi lemah pada lapisan-lapisan volkanik yang lebih muda dan pada lokasi yang lebih tinggi (Jenks, 1966, 1971) (Guilbert dan Park, Jr., 1986).

Ukuran tubuh-tubuh bijih endapan berkisar dari nodul-nodul kecil hingga massa-massa irregular dengan panjang mencapai 800 meter, lebar 300 meter, dan tebal 100 meter. Sebagian berbentuk lensa-lensa yang flat. Bijih endapan tipe kuroko umumnya berbutir halus. Umumnya memperlihatkan tekstur framboidal, mengelompok secara konsentris (concentric banding), nodul-nodul, dan struktur colloform (Guilbert dan Park, Jr., 1986).

Sawkins (1984 & 1990) melaporkan bahwa umumnya bijih tipe ini kompak dan masif, tetapi berlapis, terbreksikan, tekstur colloform dominan secara setempat, dan struktur graded bedding dalam bijih hitam (black ore) dijumpai di beberapa lokasi. Tenor rata-rata yang ditambang di Distrik Hokuroku, Jepang, adalah 2% Cu, 5% Zn, 1.5% Pb, 21% Fe, 12% Ba, 1.5 g/ton Au, dan 95 g/ton Ag (Lambert and Sato, 1974). Setiap tambang besar di distrik ini terpusat pada kelompok lensa-lensa bijih yang terpisah dengan kisaran ukuran dari < 0,1 hingga sekitar 10 juta ton; total tonase bijih di distrik ini diperkirakan 90 juta ton (Sangster, 1980). Lensa-lensa stratabound endapan ini umumnya memanjang, dengan batas-batas atas yang runcing dan batas bawah yang lebih menghambur (diffuse) dan bergradasi ke bawah melewati zona stockworks yang berkadar lebih rendah menuju ke  footwall volkanik dan tufa yang tak termineralisasi.

Menurut Pirajno (1992), ukuran tubuh bijih endapan kuroko, walaupun bervariasi, umumnya kecil. Tubuh bijih berbentuk lonceng yang bernilai ekonomis hanya mencapai ukuran 300 x 100 x 50 m3. Tonage individu tubuh bijih bervariasi dari beberapa ribu ton hingga lebih dari 1 x 106 ton. Kadarnya juga bervariasi, tetapi kisarannya umumnya sebagai berikut: Cu 0.5-2%; Pb 0.5-2%; Zn 2-10%; Au 0.5-6 g/t; Ag 20-1000 g/t; BaSO4 20-50%.

Empat zona alterasi dikenali di sekitar bijih-bijih tipe kuroko di Jepang (Guilbert and Park, Jr., 1986):

  1. Silisifikasi kuat di bagian footwalls tubuh bijih, umumnya bersama-sama dengan sejumlah kecil serisit dan klorit;
  2. Serisit, klorit, dan kuarsa yang beraosiasi kuat dengan bijih;
  3. Serisit, klorit, dan pirit di atas bijih; dan
  4. Monmorillonit dan mineralisasi zeolit yang bergradasi keluar dan ke atas menuju ke batuan yang tak teralterasi (Matsukuma and Horikoshi, 1970). Sudo (1954) melaporkan monmorillonit, besi-monmorillonit, serisit, dan klorit sebagai produk-produk alterasi. Alterasi skala distrik berkisar dari alterasi zeolit jenis mordenit di bagian tepi, dan ke arah dalam serisit lalu klorit.

Shirozu (1974) dalam Pirajno (1992) membedakan empat zona alterasi utama, di mana dari tepi ke arah inti mineralisasi, terdiri atas:

  1. zone I, dicirikan oleh kumpulan monmorillonit + zeolit + kristobalit;
  2. zone II, terdiri atas serisit + serisit-monmorillonit + klorit Fe-Mg + albit + K-felspar + kuarsa;
  3. zone III, dicirikan oleh alterasi lempung di dalam dan di sekeliling mineralisasi, dan mengandung serisit + inter-stratifikasi monmorillonit-serisit + klorit Mg dan kuarsa;
  4. zone IV, mengelilingi bagian inti tubuh mineralisasi dan memperlihatkan silisifikasi kuat, dengan kuarsa + serisit + klorit kaya Mg.

Suatu model ruang-waktu alterasi hidrotermal diusulkan oleh Pisutha-Arnond dan Ohmoto, 1983 (dalam Pirajno, 1992). Dari tepi ke arah inti mineralisasi, zona-zona alterasi dan kumpulan mineralnya sebagai berikut:

  1. zona zeolit dengan Mg-Na monmorillonit, klinoptilolit, mordenit, saponit, dan kristobalit;
  2. zona zeolit dengan kenampakan pertama kali analsim, kalsit, illit, dan kuarsa;
  3. zona Mg-Ca monmorilonit;
  4. zona transisi layer-campuran illit-monmorillonit; dan
  5. zona serisit dan klorit kaya Mg.

Sangster (1972) dalam Guilbert and Park, Jr. (1986) menyusun daftar karakteristik bijih Kuroko Miocene di Jepang, sebagai berikut:

  1. Berhubungan dengan batuan volkanik bawah laut kalk-alkalin;
  2. Mengelompok atau membentuk distrik-distrik yang berhubungan dengan pusat-pusat aktivitas volkanik;
  3. Memperlihatkan korelasi spasial yang kuat dengan volkanisme fasa eksplosif yang asam;
  4. Terdiri atas dua tipe bijih utama, sulfida masif dan stringer. Bijih masif secara esensi selaras dengan batuan di sekitarnya, sedangkan bijih stringer sangat jelas memotong stratigrafi. Bijih masif mengelompok secara banded;
  5. Tertutupi oleh suatu layer rijang-hematit ferruginous;
  6. Memperlihatkan zonasi komposisi yang selaras dengan stratigrafi, dengan pengingkatan Pb-Zn dan penurunan Cu ke arah atas;
  7. Dilapis-bawahi oleh (underlain by) material-material alterasi yang melingkupi bijih stringers;
  8. Alterasi pasca-bijih pada batuan-batuan hanging-wall, yang dapat secara langsung dihubungkan dengan mineralisasi, umum dijumpai di bagian atas bijih Kuroko;
  9. Mengandung anhidrit-gipsum;
  10. Memperlihatkan kehadiran bornit dan tetrahedrit-tennantit, dan limpahan galena.

Distrik Hanoaka-Matsumine di Honshu bagian utara merupakan lokasi tipe endapan Kuroko. Menurut Ogura (1972), bijih tersebut di distrik ini terzonasi dengan batuan silisius di bagian bawah dan gipsum di atas, diikuti oleh bijih sulfida besi silisius (keiko) kemudian oleh bijih kuning (oko); material hitam (kuroko) berada pada bagian paling atas. Tekstur-tekstur colloform dan spherulitic berkembang melimpah, terutama pada bijih-bijih masif. Tubuh-tubuh bijih Hanoaka-Matsumine dipertimbangkan terbentuk  sebagai sedimen hidrotermal bawah laut di dalam suatu kaldera pada bagian atas dari suatu sekuens batuan piroklastik yang di-interlayer dan di-overlain oleh batulumpur (mudstones). Struktur sedimen, seperti stratifikasi dan laminasi, banyak ditemukan. Proses introduksi bijih terjadi setelah intrusi kubah riolit, di mana larutan kemudian mengalir di dalam dan di sekeliling kubah. Bijih kemudian terendapkan di sedimen-sedimen yang mengitarinya, di mana mataair panas mencapai laut, yang kemudian tersebar di atas lantai samudera. Ogura (1972) mendeterminasi temperatur pembentukan bijih ini yaitu sekitar 200oC. Hasil-studi-studi terakhir (Sato, 1977) mengindikasikan bahwa bijih sulfida Kuroko terpresipitasi di atas lantai samudera Miosen bersifat asam lemah, mereduksi air laut pada temperatur 200 – 250oC dan sebagai hasil dari penurunan temperatur yang cepat. Oxygen-hydrogen and sulphur isotope ratios demand a magmatic component (Guilbert and Park, Jr., 1986).

Temperatur homogenisasi inklusi fluida mengindikasikan besarnya kisaran temperatur larutan bijih ini, dari sekitar 100 – 330oC, dengan salinitas 3.5 – 6 wt.% NaCl equivalent. Lebih spesifik pada mineral-mineral bijih kuning yang terpresipitasi pada temperatur yang paling tinggi (330oC), sementara mineral-mineral bijih hitam terpresipitasi hanya pada kisaran temperatur 200 – 330oC (Pisutha-Arnond dan Ohmoto, 1983 dalam Pirajno, 1992).

2.2     TINJAUAN UMUM ENDAPAN BIJIH DAN MINERALISASI ZEOLIT DI SANGKAROPI TANA TORAJA SULAWESI SELATAN

 

Endapan tipe Kuroko di Daerah Sangkaropi Tana Toraja Sulawesi Selatan merupakan endapan polimetalik Cu-Pb-Zn yang menunjukkan hubungan genetik yang sangat kuat dengan volkanisme-asam bawah laut berumur Miosen, dalam tufa hijau. Berdasarkan studi stratigrafi-volkanik dan paleontologi, diketahui bahwa volkanisme-asam bawah laut tersebut berhubungan dengan mineralisasi Kuroko di daerah Sangkaropi.

Dari yang diketahui berdasarkan hasil studi global, endapan mineral Sangkaropi berhubungan dengan mineralisasi tipe Kuroko di Jepang, yang dinamakan “sulfida masif tipe-Kuroko”, yang merupakan tubuh-tubuh bijih sulfida masif dalam busur kepulauan moderen, di Kuroko, timurlaut Jepang. Semua endapan tersebut berasosiasi dengan batuan volkanik yang dominan klastik-dasitik atau sebagian kecil andesitik.

Di daerah Sangkaropi, endapan tipe Kuroko berasosiasi dengan zeolit dan kaolin di sepanjang zona sesar, dan berhubungan dengan alterasi tufa andesitik dan tufa dasitik. Tufa zeolit umumnya memiliki kilap lempungan (earthy luster) dan resisten. Walaupun sebagian tufa zeolit ini memperlihatkan warna (pastel shades) kuning, coklat, merah, atau hijau, tetapi umumnya berwarna putih atau abu-abu pucat.

2.2.1  Endapan bijih Tipe-Kuroko

Endapan bijih di Daerah Sangkaropi diperkirakan merupakan tipe Kuroko (bijih hitam), yang merupakan campuran mineral-mineral sfalerit, galena, barit, kalkopirit, tetrahedrit, dan pirit. Genesisnya adalah terjadinya sirkulasi konveksi panas dari air laut yang masuk ke batuan volkanik (yang panas). Tingkat kelarutan gipsum menurun dengan bertambahnya temperatur, mengakibatkan terpresipitasinya gipsum dan anhidrit secara langsung dari air laut.

Air laut yang tersirkulasi ke dalam batuan volkanik panas tersebut, menyebabkan terbentuknya larutan bijih, akibat terjadinya penurunan tingkat oksidasi dan pelarutan logam-logam dari batuan volkanik. Sedikit air magmatik atau air meteorik juga akan tercampur dengan sirkulasi air laut.

 

2.2.2  Mineralisasi zeolit

 

Mineralisasi endapan zeolit di daerah Sangkaropi berhubungan erat dengan magmatisme dan volkanisme pada saat Miosen-Pliosen, berupa batuan basaltik dan asidik.

Pada Daerah Sangkaropi, endapan zeolit ditemukan pada endapan laut tufa hijau di sekeliling batuan granitik dan dasitik. Mineralisasi zeolit hidrotermal ini berhubungan dengan sesar, karena endapannya ditemukan melimpah dan tersebar di sepanjang zona sesar.

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN
    4.1              Hasil

    Stasiun 1

    Lokasi pengamatan stasiun satu ini terletak sekitar 3 km dari jalan poros Kantor Lembang Sangkaropi ke arah Utara. Pada lokasi ini dijumpai singkapan endapan mineral tipe kuroko. Berdasarkan kategori mineralogi bijih kuroko menurut Guilbert dan Park, Jr., 1986, endapan yang terdapat pada lokasi pengamatan ini yaitu termasuk dalam kategori bijih silisius (“keiko”) yaitu  mineral-mineral warna biru (azurit), mineral-mineral warna hijau (malacit), dan mineral-mineral warna kuning (sulfur), bijih kuning (“oko”) yaitu mineral pirit, dan vein-vein mineral kuarsa. Kategori terakhir adalah bijih hitam (“kuroko”) yaitu mineral sfalerit, dan sejumlah kecil pirit.

    Tabel 2. Deskripsi Mineral Stasiun 1

    Deskripsi

    Kode Sampel

    Kode Sampel

    Kode Sampel

    Kode Sampel

    Kode Sampel

    01/GBG/01

    01/GBG/02

    01/GBG/03

    01/GBG/04

    01/GBG/05

    Warna Segar Kuning Keemasan Kuning Biru Putih Hitam
    Warna Lapuk Kuning Coklat Coklat Coklat Hitam
    Cerat Putih Putih Biru Putih Putih
    Kilap Logam Tanah Tanah Kaca Logam
    Belahan Jelek Jelek Jelek Tidak ada Sempurna
    Pecahan Rata Tidak ada Tidak ada Konkoidal Rata
    Kekerasan 6-6,5 1,5-2,5 3,5-4 7 3,5-4
    Berat Jenis 5,0-5,2 2,0-2,1 3,83 2,65 3,9-4,2
    Bentuk Mineral Prismatik Membutir Prismatik Prismatik Prismatik
    Komposisi Kimia FeS2 S Cu3(CO3)2 (OH)­2 SiO2 (Zn,Fe)S
    Golongan Oksida dan Hidroksida Elemen Native Carbonat Silikat Sulfida
    Sistem Kristal Isometrik Orthorombik Monoklin Heksagonal Isometerik
    Nama Mineral Pirit Sulfur Azurit Kuarsa Sfalerit


    Stasiun 2

    Lokasi pengamatan stasiun dua ini terletak sekitar 200 meter dari lokasi stasiun satu. Pada lokasi ini dijumpai singkapan berbentuk stockwork. Mineral yang terdapat pada lokasi ini yaitu sulfur, azurit, vein kuarsa dan oksida besi.

    Tabel 3. Deskripsi Mineral Stasiun 2

    Deskripsi

    Kode Sampel

    Kode Sampel

    Kode Sampel

    Kode Sampel

    02/GBG/01

    02/GBG/02

    02/GBG/03

    02/GBG/04

    Warna Segar Kuning Biru Putih Coklat tua
    Warna Lapuk Coklat Coklat Coklat Coklat
    Cerat Putih Biru Putih
    Kilap Tanah Tanah Kaca Tanah
    Belahan Jelek Jelek Tidak ada
    Pecahan Tidak ada Tidak ada Konkoidal
    Kekerasan 1,5-2,5 3,5-4 7
    Berat Jenis 2,0-2,1 3,83 2,65
    Bentuk Mineral Membutir Prismatik Prismatik
    Komposisi Kimia S Cu3(CO3)2 (OH)­2 SiO2
    Golongan Elemen Native Carbonat Silikat Oksida dan Hidroksida
    Sistem Kristal Orthorombik Monoklin Heksagonal
    Nama Mineral Sulfur Azurit Kuarsa Oksida Besi


                Stasiun 3

                Lokasi pengamatan stasiun tiga ini terletak sekitar 100-150 meter dari lokasi stasiun dua. Pada lokasi ini dijumpai singkapan mineral yang terdapat di dalam gua.

    Foto 6. Gua pada lokasi stasiun tiga


    Foto 7. Mineral azurit berwarna biru yang terdapat pada mulut gua

    Berdasarkan data yang diperoleh gua ini merupakan gua buatan yang dibuat oleh PT. Aneka Tambang ketika melakukan eksplorasi di daerah ini. Berdasarkan data hasil pengukuran diketahui dimensi gua ini yaitu panjang gua 17,5 m, lebar gua 4 m, dan tinggi gua 1,94 m. Mineral-mineral yang terdapat pada lokasi pengamatan ini yaitu azurit, malacit, dan kuarsa.

     

    Tabel 4. Deskripsi Mineral Stasiun 3

    Deskripsi

    Kode Sampel

    Kode Sampel

    Kode Sampel

    03/GBG/01

    03/GBG/02

    03/GBG/03

    Warna Segar Biru Hijau tua Putih
    Warna Lapuk Coklat Coklat Coklat
    Cerat Biru Putih Putih
    Kilap Tanah Tanah Kaca
    Belahan Jelek Jelek Tidak ada
    Pecahan Tidak ada Tidak ada Konkoidal
    Kekerasan 3,5-4 3,5-4 7
    Berat Jenis 3,83 4,0 2,65
    Bentuk Mineral Prismatik Asikular, kadang berserat Prismatik
    Komposisi Kimia Cu3(CO3)2 (OH)­2 Cu2(CO3)2 (OH)­2 SiO2
    Golongan Nitrat, Carbonat, dan Borat Nitrat, Carbonat, dan Borat Silikat
    Sistem Kristal Monoklin Monoklin Heksagonal
    Nama Mineral Azurit Malacit Kuarsa

    Stasiun 4

                Lokasi pengamatan stasiun empat ini terletak sekitar 300 meter dari lokasi pengamatan stasiun tiga. Pada lokasi ini dijumpai singkapan sampel sisa coring PT. Aneka Tambang. Mineral yang terdapat pada lokasi ini yaitu mineral klorit, dan kuarsa.

     

    Foto 10. Sampel sisa coring PT. Aneka Tambang


    Tabel 5. Deskripsi Mineral Stasiun 4

    Deskripsi

    Kode Sampel

    Kode Sampel

    04/GBG/01

    04/GBG/02

    Warna Segar Hijau Putih
    Warna Lapuk Coklat Coklat
    Cerat Hijau pucat Putih
    Kilap Tanah Kaca
    Belahan Sempurna Tidak ada
    Pecahan Rata Konkoidal
    Kekerasan 6,5 7
    Berat Jenis 3,51-3,80 2,65
    Bentuk Mineral Prismatik Prismatik
    Komposisi Kimia (Fe,Mn)2Al2Si2O10(OH)­4 SiO2
    Golongan Silikat Silikat
    Sistem Kristal Monoklin Heksagonal
    Nama Mineral Klorit Kuarsa

     

    Stasiun 5

    Lokasi pengamatan stasiun lima ini terletak sekitar 400 meter dari lokasi pengamatan stasiun empat. Pada lokasi ini dijumpai singkapan alterasi mineral kaya silika dan feldspar yang berubah menjadi mineral kaolin.

    Stasiun 6

    Lokasi pengamatan stasiun enam ini terletak sekitar 500 meter dari lokasi pengamatan stasiun lima. Pada lokasi ini dijumpai singkapan tras yang terbentuk proses alterasi tufa yang berasal dari letusan gunungapi.

     

    Stasiun 7

    Lokasi pengamatan stasiun tujuh ini terletak sekitar 100 meter dari lokasi pengamatan stasiun enam. Pada lokasi ini dijumpai singkapan mineral barit.

    Tabel 6. Deskripsi Mineral Stasiun 7

    Deskripsi

    Kode Sampel

    07/GBG/01

    Warna Segar Putih
    Warna Lapuk Coklat
    Cerat Putih
    Kilap Kaca
    Belahan Sempurna
    Pecahan Tidak rata
    Kekerasan 2,5-3,5
    Berat Jenis 4,48
    Bentuk Mineral Tabular
    Komposisi Kimia BaSO4
    Golongan Sulfat, Kromat, Molibdat, dan Tungstat
    Sistem Kristal Orthorombik
    Nama Mineral Kuarsa

     

    Stasiun 8

    Lokasi pengamatan stasiun delapan ini terletak sekitar 200 meter dari lokasi pengamatan stasiun tujuh. Pada lokasi ini dijumpai singkapan kaolin yang terbentuk dari proses alterasi mineral yang kaya akan silika dan feldspar.

    Stasiun 9

    Lokasi pengamatan stasiun sembilan ini terletak sekitar 1 km dari lokasi base camp Kantor Lembang Sangkaropi. Pada lokasi ini dijumpai singkapan batuan beku yaitu porfiri basal.

     

    4.2       Pembahasan

    Pada sub-bab ini akan dilakukan pembahasan berdasarkan hasil data-data yang diperoleh. Berdasarkan hasil tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa endapan mineral yang terdapat di daerah Sangkaropi Tana Toraja merupakan endapan tipe kuroko yang termasuk dalam kategori endapan sulfida masif vulkanogenik. Endapan tipe ini berhubungan dengan volkanisme asam bawah laut, yang terbentuk dalam berbagai tatanan tektonik. Endapan mineral pada daerah ini merupakan endapan polimetalik Cu-Pb-Zn.

    Mineralisasi kuroko yang terdapat pada daerah penelitian yang dibandingkan dengan klasifikasi menurut Guilbert dan Park, Jr., 1986 yaitu :

    1. Bijih silisius (“keiko”) yaitu mineral azurit berwarna biru, mineral malacit berwarna hijau, dan mineral sulfur yang berwarna kuning.
    2. Bijih kuning (“oko”) terutama pirit berwarna kuning dan vein-vein kuarsa.
    3. Bijih hitam (“kuroko”) percampuran kuat antara sfalerit kaya besi berwarna hitam, barit, dan sejumlah kecil pirit.

    Alterasi mineral yang terdapat pada daerah penelitian berdasarkan hasil yang diperoleh pada sub-bab di atas yaitu :

    1. Alterasi mineral kaya silika dan feldspar yang berubah menjadi mineral kaolin. Alterasi mineral ini dijumpai pada lokasi stasiun 5 (lima) dan stasiun 8 (delapan).
    2. Alterasi tufa yang berasal dari letusan gunungapi yang berubah menjadi endapan tras. Alterasi ini ditemukan pada lokasi stasiun 6 (enam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s